116 Huntara Bisa Digunakan Korban Gempa Sulteng Mulai Desember

116 Huntara Bisa Digunakan Korban Gempa Sulteng Mulai Desember – Musibah di Sulawesi Tengah mengundang empati tidak berhingga. Tidak hanya dari Indonesia, bahkan juga mancanegara.

Gempa, tsunami serta lukuifaksi yang menghajar Palu, Sigi serta Donggala pada 28 September 2018 mengundang banyak simpati. Tidak hanya dari seantero daerah di Indonesia ikut dunia internasional. Tidak kecuali dari China.

Tidak hanya dari Pemerintah Republik Rakyat China, bantuan-bantuan dari individu juga banyak yang datang. Salah seseorang salah satunya ialah Li Feng Pippa (40).

Pippa mempunyai kawan di Sirenja, Sulsel. Dia berupaya mengontaknya, tetapi gempa bumi merusak jaringan komunikasi.

Pada 1 Oktober 2018 jam 01.39 WITa, Pippa mendapatkan berita dari kawannya melalui WhatsApp. Isi Whatsappnya membuat bulu kuduk Pippa merinding:

“Rumah tidak dapat dihuni kembali jadi kami mengungsi dalam tempat adik yang tidak terkena jalan lempengan. Sampai sekarang ini kamk tidur di alam terbuka. Jaringan begitu susah cuma berada di PMI serta pusat responsif darurat. Sekarang ini data sesaat: korban wafat yg diketemukan 740 orang, korban luka 632 orang, korban hilang 46 orang, korban tertimbun 140 orang, rumah rusak 65.713 unit, 500 kepala keluarga terisolasi, pengungsi 48.025 jiwa. Bila ada yang ingin salurkan pertolongan tolong dapat lewat pesawat Hercules atau melalui jalan Poso. Minta doanya Pippa.

Pippa langsung membuat desisi. Pada 4 Oktober, Pippa datang di Bandar Hawa Mutiara SIS Aljufrie Palu, sesudah melalui penerbangan 48 jam dari China Utara dengan sekali transit di Kuala Lumpur serta Jakarta.

“Saya datang di bandara darurat. Banyak sarana belumlah berperan. Dalam perjalanan saya ikut mendapatkan berita jika banyak team penyelamat non-pemerintah, team penyelamat punya Pemerintah China juga standby di Bandara Beijing menanti pemberangkatan ke Palu,” papar pria yang tahun ini mengawali belajar di Kampus Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Pippa bercerita saat malam 4 Oktober, penerbangan lebih dari 48 jam dari Cina Utara, serta ditransfer di Kuala Lumpur serta Jakarta. Pippa datang di Bandara Palu dimana masih juga dalam kondisi darurat, banyak sarana yang belum juga berperan dengan baik.

Dalam perjalanan, dia tahu jika ada banyak team penyelamat non-pemerintah dalam perjalanan dari Tiongkok, team penyelamat China, pemerintah China, ikut stanby di bandara Beijing.

Dengan bekal panduan beberapa orang China di Palu, Pippa berkunjung ke Pantai Barat, Donggala. Dia mencari tahu kehadiran kawannya di Desa Tanjung Pandang, Kecamatan Sirenja. Dia mendapatkan kawannya mengungsi. Demikian juga masyarakat desa yang lain.

Pippa kebingungan. Bagaimana dia dapat mendistribusikan beberapa bahan makanan ke beberapa orang yang memerlukan ini. Mujur dia berjumpa Jamaluddin, seseorang anggota Polisi yang bekerja disana.

“Saya kehilangan rumah sebab gempa serta tsunami. Tetapi saya mustahil tinggalkan lokasi saya jauh-jauh sebab saya bekerja di sini,” kata Pippa mengulang pernyataan Brigadir Polisi Kepala itu.

Pippa menceritakan, polisi itu mengendalikan masyarakatnya. Ia ikut mengendalikan pembagian bahan makanan yang masih tetap ada

“Jika masih tetap ada sepiring nasi, kita prioritaskan dahulu orangtua, wanita serta anak-anak,” kata Jamal pada Pippa.

Lelaki asal China Utara itu juga berjalan cepat. Dia menggalang pertolongan dari pelbagai pihak. Pentingnya dari masyarakat China dalam tempat aslinya bahkan juga dari Malaysia serta Singapura.

Dalam dua minggu sesudah gempa, Pippa mendistribusikan pertolongan 2,4 ton beras, 400 boks mie instant, 300 potong kelambu, 113 potong perlengkapan perawatan kesehatan rumah, tenda, kotak sabun bersihkan. Diluar itu adapula uang tunai sebesar Rp15 juta dari kantong Pippa sendiri ditambah dari yang lain sebesar Rp197 juta. Adapula bahan makanan yang lain sejumlah Rp82 juta.

Saat dua minggu pertama, masyarakat berdiam di gubuk seadanya. Belumlah ada tenda-tenda pertolongan yang hadir. Bagaimana privacy suami istri serta bagaimana juga kenyamanan anak-anak? Pippa lalu memutar otak kembali. Dia ingin masyarakat dapat berdiam dalam tempat wajar.

Dari pengalamanya jadi relawan di pelbagai tempat, ia paham standard minimal untuk tenda pertolongan musibah PBB membutuhkan 3,5 mtr. persegi ruangan hidup per orang, dan privacy.

Dia lantas ingat, sesudah gempabumi Wenchuan pada 2018, Pemerintah China menghasilkan tenda-tenda pertolongan musibah dalam jumlahnya besar. Untuk didapati gempa Wenchuan menewaskan lebih dari 100 ribu orang.

“Saya juga bermohon serta mengirim surat elektronik ke organisasi-organisasi sosial dalam tempat asal saya sampai lalu ada pemberitahuan jika tenda-tenda untuk masyarakat korban musibah Pantai Barat telah di kirim,” papar Pippa penuh semangat.